Monday, October 26, 2009

MERINDU LAUTMU

Aku berdiri tegak
Menatap serpihan angan yang menyebar
Mengenangmu di tapal batas kota
pada senyap yang menjaga dermaganya

Terlalu pagi untuk bermimpi
terlalu dini mengitar sepi
namun masih tersisa jejak langkah
yang tercetak di tanah basah

laut begitu tenang tak bergejolak
hamparan pasir membentang tanpa gerak
sepi menjemput kala malam berpagut
dingin berselimut kabut

Tuesday, September 15, 2009

P E R J U M P A A N

Angin pertengahan September berdesir pelahan. Membawa langkah perempuan berbandana biru menyeberangi jalan besar di pusat kota.
Ada yang mendesaknya menuju toko buku terbesar di pusat kota. Hm... Perahu Kertas-nya Dee menggoda untuk dilayarinya. Untuk ditambahkan dalam rak bukunya, menemani buku-buku lain dengan pengarang yang sama yang telah lama berderet di rak tuanya yang mulai dimakan rayap, yang sesekali masih sering dibacanya.

Langkahnya hampir mencapai depan gerbang toko, ketika tanpa sengaja pandangannya terarah pada bangunan di samping toko buku itu, tempat biasa diadakan pameran dan pertunjukan kesenian. Lalu ditemukannya tatapan itu. Tatapan ramah dan bersahabat milik lelaki bermata elang yang sudah lama tak dijumpainya.

“Hai, apa kabar?” sapa lelaki itu beranjak dari tempat duduknya, menghampiri perempuan berbandana biru.

“Hai”, namun mulutnya masih menganga, ah sebuah kebetulankah??

“Kenapa, heran ya? Kaget?’ tanya lelaki itu sambil tersenyum menyibakkan rambutnya yang mulai memanjang hampir menutupi matanya.

“Kapan datang?” Tanya perempuan berbandana biru sambil tersenyum Sudah lama didengarnya kabar lelaki bermata elang menetap di kota kelahirannya karena alas an pekerjaan.

”Tadi siang baru nyampe"jawab lelaki itu manis.

"Ada acara? atau keperluan lainnya?" serasa ada yang ingin dipastikan oleh perempuan itu.

"Tidak. Kerinduanku akan kota ini membuatku meradang”, katanya.

Mereka tertawa bersamaan.

Ada pameran buku di dalam. Ada buku-buku bagus aku sudah melihatnya”, lalu tangan lelaki itu meraih bahu perempuan berbandana biru.

Dalam sekejab mereka sudah asyik di dalam, memberbincangkan banyak buku yang direkomendasikan lelaki bermata elang itu. Sesekali terjadi perdebatan sengit di antara mereka, tersenyum kemudian tertawa. Betapa sudah lama sekali mereka tak pernah melakukan hal yang sama.

”Aku ingin melayari Perahu Kertas”, kata perempuan berbandana biru itu.

Sejak kapan kamu membaca buku-buku macam itu?” tanya lelaki bermata elang.

”Sejak aku menautkan harapan di atas angan.” desah perempuan berbandana biru itu lirih.


Mereka berpisah di depan galery tempat mereka bertemu sebelumnya.
Di tangan perempuan berbandana biru sudah ada buku yang diinginkannya, juga beberapa buku rekomendasi si lelaki bermata elang.

Matahari sudah jatuh di cakrawala. Ketika langkah kaki perempuan berbandana biru itu melangkah menyeberangi jalan. Sementara di kejauhan lelaki bermata elang itu tak jua mampu menepis resah yang mengganggunya.

Ah, sekeping kenangan yang menyesakkan, terburai jatuh bersama langkah yang kian menjauh.



Di sebuah sore yang berkesan...

Kita membutuhkan teman, bukan hanya sebagai tempat menambatkan duka, atau berbagi keriangan dan saling memberikan rekomendasi bahan bacaan. Lebih dari sekedar itu. Teman yang tahu kapan saat dibutuhkan. Terima kasih telah menjadi... :)

Wednesday, September 9, 2009

A R T I

Sebelumnya saya belum dan hampir tidak pernah memikirkan mengenai apa dan bagaimana kehidupan membawa saya mencapai apa yang saya miliki pada detik ini. Sampai saat semalam, ketika seseorang yang hanya saya kenal secara sekilas, menanyakannya.

Apa yang saya rasakan, apa yang ada dalam pikiran saya, tingkat kepuasan dan ketidakpuasan apa yang saya miliki.

Saya hanya terdiam.

Saya merasa dilemparkan dari tempat saya berdiri, dan dari alam sadar saya sendiri menuju sebuah dimensi yang lain. Kemudian saya yang berasa di luar diri saya itu melongok ke bawah, pada tempat di mana saya tengah berdiri diam. Mengamati dan merasakan sensasi yang berbeda. Sekejab kemudian, dimensi itu mengembalikan saya kembali ke dalam tubuh saya.

Saya menatapnya sesaat.

"Hidup" jawab saya pelan
"Hidup dan menghidupi" kata saya lagi, lebih tegas dari sebelumnya.

Seseorangitu, yang saya kenal secara sekilas saja, yang sangat saya hormati sebagaimana suami saya menghormatinya itu tersenyum.

"Kamu seorang yang realis" jawabnya.

Meski tak menangkap seluruh maksud dari kata-katanya. Saya merasakan sebuah beban terangkat dari batin saya. Membuat saya merasa betapa banyak sekali karunia yang sudah diberikan kepada saya. Betapa rasa syukur ini seakan selalu masih belum sempurna terpanjatkan.

Betapa sesuatu, perhatian, perkataan, pemberian atau apalah, sesederhana apapun.. sekecil apapun hal tersebut akan memberikan pengaruh luar biasa kepada seseorang.

Pesan itu yang tertangkap oleh saya. Dan saya merasa bersyukur sekali atas setiap peristiwa yang saya lewati, dan apapun yang mengiringinya.

Terima kasih, untuk bincang-bincang singkat yang mengayakan batin....

Thursday, August 27, 2009

K I T A

: BR

Ada satu hal yang tak mungkin kita pungkiri
Dengan semakin bertambahnya hari, semakin dalam pula ikatan yang terjalin di antara kita Untuk segala lupa, untuk segala canda, amarah, percik-percik kecil yang mengiringi, serta segala ketulusan yang membingkai hari-hari.
Terimakasih
Semoga selamanya

ALLAH naungi kami dalam balutan RAHMAAN dan RAHIIM-MU hingga tak sekalipun kami palingkan tujuan hidup ini dari beribadah pada-Mu saja

Monday, August 10, 2009

Untukmu... Selalu...

Hari itu berlalu dengan penat. Kelelahan kegiatan di sekolah, kelelahan latihan…
Seperti biasa, pulang dan beristirahat. Sambil bercanda dulu beberapa saat.
Sorenya aku memandang langit nampak merah semburat.

“jalan-jalan yuk…” ajakmu
Ke mana tanyaku
“Ke mana aja kamu mau” katamu lagi sambil bersiap-siap

Lalu motor melaju meninggalkan rumah. Kita gak rapi-rapi amat kayak mau malam mingguan, aku hanya memakai baju rumah biasa, kamu juga hanya memakai kaus dan celana selutut saja. Motor melaju tanpa tujuan awalnya. Namun tiba-tiba berbelok arah menuju Pasar Legi.

Kita belanja ya? Tanyaku
Iya, bkar-bakar ikan di belakang rumah aja ya? Tanyamu manis
Aku mengiyakan dengan semangat.

Sore itu kita beli 4 ekor ikan laut, kemudian mencari penjual arang setelah dapat semua kembali menuju pulang

Di perjalanan tiba-tiba kita teringat kalau tidak punya tempat untuk membakar, jadinya balik lagi ke pasar mencari anglo, semacam gerabah dari tanah yang dimasuki arang untuk membakar, sekalian kita beli pangganggan dan kipas yang terbuat dari bambu untuk mengipasi ikan bakar.

Sampai di rumah menjelang maghrib. Setelah sholat berjamah, kita berdua sibuk di dapur. Aku membuat bumbu, kamu menmbersihkan ikan dan tempat untuk membakarnya.
Sambil menikmati bintang yang bertaburan dengan indahnya…

Sekitar pukul 8 acara bakar membakar selesai sudah. Dengan sambal terasi mentah kita menikmatinya berdua
Di belakang rumah sambil menikmati bintang yang terus berpendaran
Semoga selalu indah senatiasa…

Selamat ulang tahun, Cintaku…
Semoga kebahagiaan senantiasa menaungi kita
Dan rasa syukur tak pernah lelah terucap dalam tiap hembusan nafas…
Aku mencintaimu… Akan dan selalu….

Thursday, August 6, 2009

Di antara

Di antara percaya dan ambigu
Di antara desing dan dentum
Di antara maya dan nyata
Di antara alpa dan lupa
Di antara kelam dan terang
Di antara resah dan gelisah
Di antara riuh dan gemuruh
Di antara riak dan alir
Di antara kelam dan cekam
Di antara ada dan tiada
: Di antara

Saturday, July 11, 2009

A K U I N G I N

Aku ingin menghirup aroma pagi
membagi bening embun kepada pucuk-pucuk daun
di seling sayup kicau burung
memberi sapa sang mentari

Aku ingin berlari di tengah gerimis
sambil merangkai segala impi
lalu menengadah kepada awan
membiarkan rintiknya memenuhi wajah

Aku ingin membagi lelah
ketika hati dipenuhi rasa gundah
dan ketika senyum itu datang menggugah
segala penat hilanglah sudah