Beberapa hari yang lalu seorang teman yang baru saja menikah bertandang ke rumah saya. Waktu itu saya tengan memetik kangkung untuk ditumis. Lalu tiba-tiba saya meluncurlah cerita panjang dari bibirnya. Ia mengatakan banyak kejutan terjadi dalam kehidupan barunya. Dari yang menyenangkan sampai keluhan mengenai kenyataan yang didapatinya mengenai hal-hal kecil yang tak terbayangkan olehnya ketika belum menikah dulu.
"Saya kaget banget, masak iya baju kotor dilempar-lempar gitu aja di sembarang tempat. Belum lagi kalau manaruh barang pasti tidak pada tempatnya", katanya sambil bersungut-sungut.
Saya menanggapinya dengan tersenyum saja sambil memotong cabe hijau dan bawang putih.
"Mungkin kalau dulu saya memilih si A pasti lebih banyak keselarasannya, kita gak jodoh kali ya mbak", tanyanya minta pendapat saya.
"Lah jodoh itu apa sih menurut kamu?" saya malih balik bertanya.
"Ya yang namanya jodoh sudah pastilah segala sesuatunya memiliki kesamaan dan keselarasan, jadi gak mungkin ada kejutan-kejutan lagi macam itu", kata teman saya itu dengan bersemangat.
"Garing banget", komentar saya singkat sambil mulai menyalakn kompor untuk menumis.
"Garing bagaimana, mbak?", tanyanya penuh rasa ingin tahu.
"Ya iyalah. coba kalau segala sesuatunya sam pasti gak ada seninya sama sekali. Bagi saya yang namanya jodoh itu adalah pelengkap bagian hidup kita, macem potongan puzzle yang kalau dipasangkan akan menjadikannya utuh. Jadi gak melulu musti sama persis. Tapi ini menurut saya lho ya", kata saya.
Ia terdiam sejenak.
"Saya aja yang udah pacaran 7 tahun dan hampir 4 tahun menikah masih saja ada hal-hal kecil yang ternyata masih mengejutkan saya kok. Tapi ya di situ itu seninya. Tinggal bagaimana kita mengkomunikasikannya", tambah saya.
"Gitu ya... Tapi..."ia masih hendak menyangkal lagi.
Tapi segera saya potong.
"Sudahlah, untuk mencari kesalahan memang tidak akan ada habisnya. belum tentu kamupun perfect buat suamimu. Karena hanya Tuhan saja yang bisa perfect untuk dijadikan Kekasih. Syukuri saja, dan lihat sisi baik yang pernah dibuatnya. Kamu toh menerimanya sebagai suami", saya coba memberikan saran
"Saya gak mengira kalau dia jorok gitu, dulu saja..."
"Eits, gak baik makin membuka aib. Gini aja deh. ajak suami kamu ngomong baik-baik terus pelan-pelan coba ubah dengan metode. pasti kamu akan temukan. yang penting jangan pernah menyesali apa yang sudah ada. kalau kamu yakin pasti kalian memang berjodoh. naytanya sekarang kalain dipersatukan", kata saya sambil menuang tumis kangkung yang sudah siap untuk dihidangkan.
"Lagi pula perjalanan kalian masih panjang. jangan mengampbil kesimpulan apapun selama masih menjalaninya", kata saya lagi sambil tersenyum.
"Iya deh mbak.. Saya pulang dulu ya. Mau nyiapin makan siang", pamitnya.
Hm... iya deh.
Saya tersenyum sendiri sambil memandangi tumis kangkung di meja. Sayur yang dulunya sangat tidak disukai suami saya tapi merupakan favorit saya itu sekarang dapat kami nikmati berdua, tanpa keluhan rasa, tanpa ketidaknyamanan.
Wednesday, December 2, 2009
Saturday, November 21, 2009
Tentang Tidur Malam
Sejak menikah saya memiliki kebiasaan aneh. Setiap kali ditinggal pergi suami saya tidak dapat tidur dengan nyenyak. Padahal hari-hari biasa juga kadang beliau latihan sampai jauh malem, saya dapat tidur dengan nyenyak, karena saya tahu dia pasti datang.
Tapi kalau pergi ke luar kota sampai beberapa hari begini pastilah saya begadang semalaman sampai pagi. Mana malam-malam hujan deras, belumlagi angin yang berhembus dengan kencang mana kopi sudah gak ada, lupa beli waktu pulang kerja. Tapi kadang ada sisi baiknya juga. Karena bengong gag tahu mau ngapain, sementara acara TV lewat tengah malam tak begitu mengasyikkan, akhirnya semua kerjaan yang saya bawa pulang dapat terselesaikan dengan cepat.
Tapi paginya, huh… badan pada pegel semuanya…
Ini berbeda sekali dengan ketika saya belum menikah. Tidur tak pernah jadi masalah. Di manapun kapanpun kantuk itu dapat menyerang dengan tiba-tiba. Tak pernah ada cerita saya sampai terkena imsonia.
Yah, semoga satu malam lagi terlewati tanpa masalah. Cepat pulang ya, mas..
Tapi kalau pergi ke luar kota sampai beberapa hari begini pastilah saya begadang semalaman sampai pagi. Mana malam-malam hujan deras, belumlagi angin yang berhembus dengan kencang mana kopi sudah gak ada, lupa beli waktu pulang kerja. Tapi kadang ada sisi baiknya juga. Karena bengong gag tahu mau ngapain, sementara acara TV lewat tengah malam tak begitu mengasyikkan, akhirnya semua kerjaan yang saya bawa pulang dapat terselesaikan dengan cepat.
Tapi paginya, huh… badan pada pegel semuanya…
Ini berbeda sekali dengan ketika saya belum menikah. Tidur tak pernah jadi masalah. Di manapun kapanpun kantuk itu dapat menyerang dengan tiba-tiba. Tak pernah ada cerita saya sampai terkena imsonia.
Yah, semoga satu malam lagi terlewati tanpa masalah. Cepat pulang ya, mas..
Monday, October 26, 2009
MERINDU LAUTMU
Aku berdiri tegak
Menatap serpihan angan yang menyebar
Mengenangmu di tapal batas kota
pada senyap yang menjaga dermaganya
Terlalu pagi untuk bermimpi
terlalu dini mengitar sepi
namun masih tersisa jejak langkah
yang tercetak di tanah basah
laut begitu tenang tak bergejolak
hamparan pasir membentang tanpa gerak
sepi menjemput kala malam berpagut
dingin berselimut kabut
Menatap serpihan angan yang menyebar
Mengenangmu di tapal batas kota
pada senyap yang menjaga dermaganya
Terlalu pagi untuk bermimpi
terlalu dini mengitar sepi
namun masih tersisa jejak langkah
yang tercetak di tanah basah
laut begitu tenang tak bergejolak
hamparan pasir membentang tanpa gerak
sepi menjemput kala malam berpagut
dingin berselimut kabut
Tuesday, September 15, 2009
P E R J U M P A A N
Angin pertengahan September berdesir pelahan. Membawa langkah perempuan berbandana biru menyeberangi jalan besar di pusat kota.
Ada yang mendesaknya menuju toko buku terbesar di pusat kota. Hm... Perahu Kertas-nya Dee menggoda untuk dilayarinya. Untuk ditambahkan dalam rak bukunya, menemani buku-buku lain dengan pengarang yang sama yang telah lama berderet di rak tuanya yang mulai dimakan rayap, yang sesekali masih sering dibacanya.
Langkahnya hampir mencapai depan gerbang toko, ketika tanpa sengaja pandangannya terarah pada bangunan di samping toko buku itu, tempat biasa diadakan pameran dan pertunjukan kesenian. Lalu ditemukannya tatapan itu. Tatapan ramah dan bersahabat milik lelaki bermata elang yang sudah lama tak dijumpainya.
“Hai, apa kabar?” sapa lelaki itu beranjak dari tempat duduknya, menghampiri perempuan berbandana biru.
“Hai”, namun mulutnya masih menganga, ah sebuah kebetulankah??
“Kenapa, heran ya? Kaget?’ tanya lelaki itu sambil tersenyum menyibakkan rambutnya yang mulai memanjang hampir menutupi matanya.
“Kapan datang?” Tanya perempuan berbandana biru sambil tersenyum Sudah lama didengarnya kabar lelaki bermata elang menetap di kota kelahirannya karena alas an pekerjaan.
”Tadi siang baru nyampe"jawab lelaki itu manis.
"Ada acara? atau keperluan lainnya?" serasa ada yang ingin dipastikan oleh perempuan itu.
"Tidak. Kerinduanku akan kota ini membuatku meradang”, katanya.
Mereka tertawa bersamaan.
”Ada pameran buku di dalam. Ada buku-buku bagus aku sudah melihatnya”, lalu tangan lelaki itu meraih bahu perempuan berbandana biru.
Dalam sekejab mereka sudah asyik di dalam, memberbincangkan banyak buku yang direkomendasikan lelaki bermata elang itu. Sesekali terjadi perdebatan sengit di antara mereka, tersenyum kemudian tertawa. Betapa sudah lama sekali mereka tak pernah melakukan hal yang sama.
”Aku ingin melayari Perahu Kertas”, kata perempuan berbandana biru itu.
”Sejak kapan kamu membaca buku-buku macam itu?” tanya lelaki bermata elang.
”Sejak aku menautkan harapan di atas angan.” desah perempuan berbandana biru itu lirih.
Mereka berpisah di depan galery tempat mereka bertemu sebelumnya.
Di tangan perempuan berbandana biru sudah ada buku yang diinginkannya, juga beberapa buku rekomendasi si lelaki bermata elang.
Matahari sudah jatuh di cakrawala. Ketika langkah kaki perempuan berbandana biru itu melangkah menyeberangi jalan. Sementara di kejauhan lelaki bermata elang itu tak jua mampu menepis resah yang mengganggunya.
Ah, sekeping kenangan yang menyesakkan, terburai jatuh bersama langkah yang kian menjauh.
Di sebuah sore yang berkesan...
Kita membutuhkan teman, bukan hanya sebagai tempat menambatkan duka, atau berbagi keriangan dan saling memberikan rekomendasi bahan bacaan. Lebih dari sekedar itu. Teman yang tahu kapan saat dibutuhkan. Terima kasih telah menjadi... :)
Ada yang mendesaknya menuju toko buku terbesar di pusat kota. Hm... Perahu Kertas-nya Dee menggoda untuk dilayarinya. Untuk ditambahkan dalam rak bukunya, menemani buku-buku lain dengan pengarang yang sama yang telah lama berderet di rak tuanya yang mulai dimakan rayap, yang sesekali masih sering dibacanya.
Langkahnya hampir mencapai depan gerbang toko, ketika tanpa sengaja pandangannya terarah pada bangunan di samping toko buku itu, tempat biasa diadakan pameran dan pertunjukan kesenian. Lalu ditemukannya tatapan itu. Tatapan ramah dan bersahabat milik lelaki bermata elang yang sudah lama tak dijumpainya.
“Hai, apa kabar?” sapa lelaki itu beranjak dari tempat duduknya, menghampiri perempuan berbandana biru.
“Hai”, namun mulutnya masih menganga, ah sebuah kebetulankah??
“Kenapa, heran ya? Kaget?’ tanya lelaki itu sambil tersenyum menyibakkan rambutnya yang mulai memanjang hampir menutupi matanya.
“Kapan datang?” Tanya perempuan berbandana biru sambil tersenyum Sudah lama didengarnya kabar lelaki bermata elang menetap di kota kelahirannya karena alas an pekerjaan.
”Tadi siang baru nyampe"jawab lelaki itu manis.
"Ada acara? atau keperluan lainnya?" serasa ada yang ingin dipastikan oleh perempuan itu.
"Tidak. Kerinduanku akan kota ini membuatku meradang”, katanya.
Mereka tertawa bersamaan.
”Ada pameran buku di dalam. Ada buku-buku bagus aku sudah melihatnya”, lalu tangan lelaki itu meraih bahu perempuan berbandana biru.
Dalam sekejab mereka sudah asyik di dalam, memberbincangkan banyak buku yang direkomendasikan lelaki bermata elang itu. Sesekali terjadi perdebatan sengit di antara mereka, tersenyum kemudian tertawa. Betapa sudah lama sekali mereka tak pernah melakukan hal yang sama.
”Aku ingin melayari Perahu Kertas”, kata perempuan berbandana biru itu.
”Sejak kapan kamu membaca buku-buku macam itu?” tanya lelaki bermata elang.
”Sejak aku menautkan harapan di atas angan.” desah perempuan berbandana biru itu lirih.
Mereka berpisah di depan galery tempat mereka bertemu sebelumnya.
Di tangan perempuan berbandana biru sudah ada buku yang diinginkannya, juga beberapa buku rekomendasi si lelaki bermata elang.
Matahari sudah jatuh di cakrawala. Ketika langkah kaki perempuan berbandana biru itu melangkah menyeberangi jalan. Sementara di kejauhan lelaki bermata elang itu tak jua mampu menepis resah yang mengganggunya.
Ah, sekeping kenangan yang menyesakkan, terburai jatuh bersama langkah yang kian menjauh.
Di sebuah sore yang berkesan...
Kita membutuhkan teman, bukan hanya sebagai tempat menambatkan duka, atau berbagi keriangan dan saling memberikan rekomendasi bahan bacaan. Lebih dari sekedar itu. Teman yang tahu kapan saat dibutuhkan. Terima kasih telah menjadi... :)
Wednesday, September 9, 2009
A R T I
Sebelumnya saya belum dan hampir tidak pernah memikirkan mengenai apa dan bagaimana kehidupan membawa saya mencapai apa yang saya miliki pada detik ini. Sampai saat semalam, ketika seseorang yang hanya saya kenal secara sekilas, menanyakannya.
Apa yang saya rasakan, apa yang ada dalam pikiran saya, tingkat kepuasan dan ketidakpuasan apa yang saya miliki.
Saya hanya terdiam.
Saya merasa dilemparkan dari tempat saya berdiri, dan dari alam sadar saya sendiri menuju sebuah dimensi yang lain. Kemudian saya yang berasa di luar diri saya itu melongok ke bawah, pada tempat di mana saya tengah berdiri diam. Mengamati dan merasakan sensasi yang berbeda. Sekejab kemudian, dimensi itu mengembalikan saya kembali ke dalam tubuh saya.
Saya menatapnya sesaat.
"Hidup" jawab saya pelan
"Hidup dan menghidupi" kata saya lagi, lebih tegas dari sebelumnya.
Seseorangitu, yang saya kenal secara sekilas saja, yang sangat saya hormati sebagaimana suami saya menghormatinya itu tersenyum.
"Kamu seorang yang realis" jawabnya.
Meski tak menangkap seluruh maksud dari kata-katanya. Saya merasakan sebuah beban terangkat dari batin saya. Membuat saya merasa betapa banyak sekali karunia yang sudah diberikan kepada saya. Betapa rasa syukur ini seakan selalu masih belum sempurna terpanjatkan.
Betapa sesuatu, perhatian, perkataan, pemberian atau apalah, sesederhana apapun.. sekecil apapun hal tersebut akan memberikan pengaruh luar biasa kepada seseorang.
Pesan itu yang tertangkap oleh saya. Dan saya merasa bersyukur sekali atas setiap peristiwa yang saya lewati, dan apapun yang mengiringinya.
Terima kasih, untuk bincang-bincang singkat yang mengayakan batin....
Apa yang saya rasakan, apa yang ada dalam pikiran saya, tingkat kepuasan dan ketidakpuasan apa yang saya miliki.
Saya hanya terdiam.
Saya merasa dilemparkan dari tempat saya berdiri, dan dari alam sadar saya sendiri menuju sebuah dimensi yang lain. Kemudian saya yang berasa di luar diri saya itu melongok ke bawah, pada tempat di mana saya tengah berdiri diam. Mengamati dan merasakan sensasi yang berbeda. Sekejab kemudian, dimensi itu mengembalikan saya kembali ke dalam tubuh saya.
Saya menatapnya sesaat.
"Hidup" jawab saya pelan
"Hidup dan menghidupi" kata saya lagi, lebih tegas dari sebelumnya.
Seseorangitu, yang saya kenal secara sekilas saja, yang sangat saya hormati sebagaimana suami saya menghormatinya itu tersenyum.
"Kamu seorang yang realis" jawabnya.
Meski tak menangkap seluruh maksud dari kata-katanya. Saya merasakan sebuah beban terangkat dari batin saya. Membuat saya merasa betapa banyak sekali karunia yang sudah diberikan kepada saya. Betapa rasa syukur ini seakan selalu masih belum sempurna terpanjatkan.
Betapa sesuatu, perhatian, perkataan, pemberian atau apalah, sesederhana apapun.. sekecil apapun hal tersebut akan memberikan pengaruh luar biasa kepada seseorang.
Pesan itu yang tertangkap oleh saya. Dan saya merasa bersyukur sekali atas setiap peristiwa yang saya lewati, dan apapun yang mengiringinya.
Terima kasih, untuk bincang-bincang singkat yang mengayakan batin....
Thursday, August 27, 2009
K I T A
: BR
Ada satu hal yang tak mungkin kita pungkiri
Dengan semakin bertambahnya hari, semakin dalam pula ikatan yang terjalin di antara kita Untuk segala lupa, untuk segala canda, amarah, percik-percik kecil yang mengiringi, serta segala ketulusan yang membingkai hari-hari.
Terimakasih
Semoga selamanya
ALLAH naungi kami dalam balutan RAHMAAN dan RAHIIM-MU hingga tak sekalipun kami palingkan tujuan hidup ini dari beribadah pada-Mu saja
Ada satu hal yang tak mungkin kita pungkiri
Dengan semakin bertambahnya hari, semakin dalam pula ikatan yang terjalin di antara kita Untuk segala lupa, untuk segala canda, amarah, percik-percik kecil yang mengiringi, serta segala ketulusan yang membingkai hari-hari.
Terimakasih
Semoga selamanya
ALLAH naungi kami dalam balutan RAHMAAN dan RAHIIM-MU hingga tak sekalipun kami palingkan tujuan hidup ini dari beribadah pada-Mu saja
Monday, August 10, 2009
Untukmu... Selalu...
Hari itu berlalu dengan penat. Kelelahan kegiatan di sekolah, kelelahan latihan…
Seperti biasa, pulang dan beristirahat. Sambil bercanda dulu beberapa saat.
Sorenya aku memandang langit nampak merah semburat.
“jalan-jalan yuk…” ajakmu
Ke mana tanyaku
“Ke mana aja kamu mau” katamu lagi sambil bersiap-siap
Lalu motor melaju meninggalkan rumah. Kita gak rapi-rapi amat kayak mau malam mingguan, aku hanya memakai baju rumah biasa, kamu juga hanya memakai kaus dan celana selutut saja. Motor melaju tanpa tujuan awalnya. Namun tiba-tiba berbelok arah menuju Pasar Legi.
Kita belanja ya? Tanyaku
Iya, bkar-bakar ikan di belakang rumah aja ya? Tanyamu manis
Aku mengiyakan dengan semangat.
Sore itu kita beli 4 ekor ikan laut, kemudian mencari penjual arang setelah dapat semua kembali menuju pulang
Di perjalanan tiba-tiba kita teringat kalau tidak punya tempat untuk membakar, jadinya balik lagi ke pasar mencari anglo, semacam gerabah dari tanah yang dimasuki arang untuk membakar, sekalian kita beli pangganggan dan kipas yang terbuat dari bambu untuk mengipasi ikan bakar.
Sampai di rumah menjelang maghrib. Setelah sholat berjamah, kita berdua sibuk di dapur. Aku membuat bumbu, kamu menmbersihkan ikan dan tempat untuk membakarnya.
Sambil menikmati bintang yang bertaburan dengan indahnya…
Sekitar pukul 8 acara bakar membakar selesai sudah. Dengan sambal terasi mentah kita menikmatinya berdua
Di belakang rumah sambil menikmati bintang yang terus berpendaran
Semoga selalu indah senatiasa…
Selamat ulang tahun, Cintaku…
Semoga kebahagiaan senantiasa menaungi kita
Dan rasa syukur tak pernah lelah terucap dalam tiap hembusan nafas…
Aku mencintaimu… Akan dan selalu….
Seperti biasa, pulang dan beristirahat. Sambil bercanda dulu beberapa saat.
Sorenya aku memandang langit nampak merah semburat.
“jalan-jalan yuk…” ajakmu
Ke mana tanyaku
“Ke mana aja kamu mau” katamu lagi sambil bersiap-siap
Lalu motor melaju meninggalkan rumah. Kita gak rapi-rapi amat kayak mau malam mingguan, aku hanya memakai baju rumah biasa, kamu juga hanya memakai kaus dan celana selutut saja. Motor melaju tanpa tujuan awalnya. Namun tiba-tiba berbelok arah menuju Pasar Legi.
Kita belanja ya? Tanyaku
Iya, bkar-bakar ikan di belakang rumah aja ya? Tanyamu manis
Aku mengiyakan dengan semangat.
Sore itu kita beli 4 ekor ikan laut, kemudian mencari penjual arang setelah dapat semua kembali menuju pulang
Di perjalanan tiba-tiba kita teringat kalau tidak punya tempat untuk membakar, jadinya balik lagi ke pasar mencari anglo, semacam gerabah dari tanah yang dimasuki arang untuk membakar, sekalian kita beli pangganggan dan kipas yang terbuat dari bambu untuk mengipasi ikan bakar.
Sampai di rumah menjelang maghrib. Setelah sholat berjamah, kita berdua sibuk di dapur. Aku membuat bumbu, kamu menmbersihkan ikan dan tempat untuk membakarnya.
Sambil menikmati bintang yang bertaburan dengan indahnya…
Sekitar pukul 8 acara bakar membakar selesai sudah. Dengan sambal terasi mentah kita menikmatinya berdua
Di belakang rumah sambil menikmati bintang yang terus berpendaran
Semoga selalu indah senatiasa…
Selamat ulang tahun, Cintaku…
Semoga kebahagiaan senantiasa menaungi kita
Dan rasa syukur tak pernah lelah terucap dalam tiap hembusan nafas…
Aku mencintaimu… Akan dan selalu….
Subscribe to:
Posts (Atom)